Hubungan Seni dan Kesehatan Mental

Hubungan Seni dan Kesehatan Mental

Hubungan Seni dan Kesehatan Mental, Bisa Kurangi Depresi Seseorang

Hubungan Seni dan Kesehatan Mental – Mungkin kamu sedikit tidak percaya ketika mengetahui bahwa seni menjadi alat yang efektif untuk mengobati kesehatan mental. Kamu mungkin bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan seni sebagai bahan untuk terapi? Sebagai media ekspresif, seni digunakan untuk membantu pengidap berkomunikasi, mengatasi stres, dan mengeksplorasi berbagai aspek kepribadian mereka sendiri.

10 Oktober merupakan hari kesehatan mental sedunia. Pada hari itu, orang-orang mencoba memperingati sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya Live22 Indonesia kesehatan mental dalam kehidupan.

Sayangnya, dalam dunia kesehatan masalah mental masih belum dilihat begitu serius ketimbang kondisi fisik seseorang. Padahal kesehatan mental dapat mempengaruhi seseorang untuk merenggut nyawanya.

Dalam situasi pandemik ini, lockdown atau isolasi diri cukup meningkatkan depresi pada seseorang dan itu bisa berujung berbahaya. Cabin wood syndrome menjadi penyebab utamanya.

Akan tetapi, sebenarnya selalu ada cara untuk menyalurkan tekanan mental walau tetap berada di dalam rumah. Salah satunya dengan berkesenian atau menciptakan karya seni. Bagaimana bisa seni berhubungan erat dengan kesehatan mental? Dra. Astrid Regina Sapiie S.Psi, SHSB — psikolog di Rumah Sakit Siloam Surabaya, menjelaskan hal ini.

Seni dapat menurunkan kecemasan dan depresi

Salah satu artikel dari The Guardian pernah memberikan data ilmiah terkait keberhasilan seni dalam mendukung kesehatan mental seseorang. Evaluasi dari proyek bernama Arts on Prescription menunjukkan berkarya seni dapat menurunkan kecemasan seseorang hingga 71 persen dan depresi 73 persen.

Dikatakan pula 76 persen partisipan yang diteliti berkata kesejahteraan mereka meningkat setelah mengikuti kegiatan kesenian tersebut dan 69 persen lainnya malah merasa menjadi lebih sosial. Tidak mengagetkan jika ada banyak terapi kesehatan mental yang menggunakan seni sebagai mediumnya. Mulai dari melukis, bernyanyi, menari dan lain hal.

Kasus yang lebih baik, seni bisa membantu seseorang melewati trauma

Situs South China Morning Post pernah membuat artikel keterkaitan antara seni dan kesehatan mental. Disebutkan ada dampak positif yang bisa didapat dari berkesenian dan itu dinamakan post traumatic growth, kondisi seseorang mampu melalui trauma terdahulunya. Disebutkan ada empat manfaat area dari post traumatic growth tersebut: perkembangan pribadi dan interpersonal, serta orientasi hidup dan spiritual.

Seni sebagai penyalur beban mental dan indikasi gejala gangguan mental sangat susah dibedakan

Lewat penjelasan ini, kamu bisa mengetahui dan memahami bahwa karya seni bisa menjadi perwujudan akan mental seseorang. Namun bagaimana cara mengetahui jika karya seni itu merupakan indikasi beban mental yang tidak sehat? Astrid mengatakan itu akan sangat sulit dideteksi, khususnya bagi orang awam.

Jika saat ini kamu merasa stres karena berada di rumah saja, cobalah untuk membuat karya. Entah itu menulis, melukis atau membuat lagu.

Hal-hal sederhana macam itu akan membantumu mengatasi permasalahan ini. Pada akhirnya pun kamu pun sebagai orang awam ada baiknya membekali diri dengan literasi seputar kesehatan mental untuk bisa mengenali tanda-tanda gangguan mental dan meningkatkan kesadaran diri sendiri.

Berkesenian telah terbukti secara ilmiah mampu menyalurkan depresi dan beban mental

Umumnya seseorang menyalurkan beban mentalnya dengan cara melakukan curhat kepada kerabat atau kawannya. Namun hal ini susah dilakukan mengingat masa lockdown membuat orang terisolasi, khususnya dalam urusan komunikasi. Astrid mengatakan dan menyetujui fakta jika komunikasi itu bisa diganti dan diarahkan menjadi berkarya seni.

Dalam penjelasannya, Astrid menyebut berkarya seni berarti mengekspresikan emosi dan menuangkan rasa pada diri sendiri yang mana itu dapat membuat seseorang menjadi lebih fokus dan produktif. Secara gamblangnya, karya seni menjadi medium mengeluarkan uneg-uneg dan beban mental yang dirasakan selama ini.

Penyaluran kesehatan mental itu ternyata berhubungan dengan kegiatan fisik yang terjadi

Koneksi antara seni dan kesehatan mental ternyata lebih kompleks daripada yang kamu kira. Bustle pernah memberikan data dari jurnal kesehatan berjudul “Emotional Response and Changes in Heart Rate Variability Following Art-Making With Three Different Art Materials” bahwa ternyata membuat karya seni menurunkan tingkat detak jantung seseorang.

Perubahan fisik yang terjadi saat membuat atau melakukan seni ini berakhir membantu meregulasi sistem saraf. Sebagai contoh, saat kamu menggambar, kamu memfokuskan tubuhmu kepada pensil yang kamu pegang dan pikiranmu kepada gerakan tangan. Fokus ini mengaktifkan sistem saraf parasimpatetik yang ada dalam tubuhmu dan ini semua membuatmu menjadi lebih tenang.

Namun demikian menjadi seniman lantas tak selalu memiliki kesehatan mental yang baik

Sudah sewajarnya lewat data-data ini kamu pasti berpikiran bahwa semua seniman itu bahagia dan punya kesehatan mental yang baik mengingat mereka bisa menyalurkan pikiran serta beban mentalnya ke karya mereka. Nyatanya tidak demikian.

Astrid menerangkan bahwa ada perbedaan yang begitu terasa dari seseorang yang sekadar berkesenian demi menyalurkan beban mentalnya dengan seniman yang merasa berkewajiban harus terus menerus membuat karya seni “Perbedaannya terletak dari proses kreatifnya.”

Analoginya seperti ini: beban mental tersimpan dalam diri kita seperti sampah yang disimpan dalam suatu bejana. Lama kelamaan sampah itu akan menumpuk jika tidak dikeluarkan dan itu membuatnya menjadi tidak sehat. Lewat berkesenian, sampah-sampah itu dikeluarkan dengan dijadikan sebagai material utama karya seni tersebut yang mana membuat bejana ini menjadi kosong dan bersih, satu indikasi kesehatan mental kita yang baik-baik saja.

Bagaimana dengan kasus seniman? Proses kreatif yang dilaluinya pada mulanya serupa, yaitu menggunakan sampah mental sebagai bahan dasar berkarya seni. Namun dengan profesinya sebagai seniman, mereka dituntut untuk terus memproduksi seni tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana jika beban mental yang disimpan dalam bejana, yang dijadikan sebagai material produksi, habis dan kosong? Mau tidak mau mereka harus mengisinya dan itu bisa dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.

Proses pengisian beban mental inilah yang dapat mengakibatkan seniman punya kesehatan jiwa yang jelek. Bisa jadi apa yang mereka isi malah jauh lebih banyak daripada apa yang mereka keluarkan.

Dalam kasus lain, seniman tersebut tak punya cara lain mengingat mereka memang punya gangguan mental yang tidak bisa disembuhkan.

Comments are closed.